Rabu, 17 Agustus 2016

Memilih Buku Bacaan yang Tepat untuk Anak


Memilih Buku Bacaan yang Tepat untuk Anak

 Oleh: Yudi Purbowinanto, S.S.


“Buku adalah gudang Ilmu.” Secara tersurat, kata pepatah itu masih sering kita dengar. Namun, secara tersirat, makna dari pepatah itu sering terlupakan.

Buku masih dianggap sesuatu benda yang  “asing” untuk diperkenalkan kepada anak-anak. Begitu pula dengan membaca, masih ada orangtua yang beranggapan bahwa membaca adalah pekerjaan yang sia-sia.
Sebagai contoh dalam suatu keluarga. Seorang ibu mempunyai dua orang anak. Anak yang satu sedang menyiram bunga, anak lainnya membaca. Ibu dari kedua anak tersebut lebih memandang si anak  yang  menyiram bunga, yakni anak yang melakukan pekerjaan daripada anak yang sedang membaca.
Dari contoh di atas, terlihat bahwa membaca tidaklah  dianggap sebagai suatu pekerjaan penting. Membaca masih dianggap  pekerjaan iseng yang dilakukan hanya sekadar mengisi waktu luang.
Padahal, jika kita memandang secara luas pepatah di atas,  dengan membaca, ilmu dan wawasan kita akan bertambah. Apapun yang kita baca pasti bermanfaat. Apakah itu buku, majalah, surat kabar, dan lain-lain.
Seharusnya, kita pun sependapat bahwa membaca adalah modal  berharga untuk bisa hidup dalam masyarakat.Di sekolah dasar, anak-anak dididik belajar membaca. Membaca menjadi sarat mutlak berhasilnya proses belajar mengajar. Setelah dewasa kita bekerja. Dalam bekerja, kita pun perlu membaca untuk keperluan pekerjaan dan menambah wawasan.
Bila kita mendapat kepuasan yang mendalam dari membaca buku, kita ingin mewariskan  pengalaman itu kepada anak kita. Sebaliknya, bila  sangat sedikit kita  mendapatkan kepuasan dari bacaan itu, kita hanya berharap agar anak kita mendapatkan kepuasan yang lebih besar dari yang kita peroleh.
Tidak hanya itu, buku juga menawarkan sesuatu bentuk dari sekadar pelajaran atau hiburan. Di tengah dunia mereka yang serbasibuk, buku menjadikan kebutuhan khusus anak, yaitu pintu menuju dunia pikiran dan emosi yang tidak dapat dicapai dengan cara lain. Dengan demikian, membaca akan menjadi suatu komunikasi yang akrab dan intim.
Dari semua alasan itu, munculah keinginan agar anak kita mau dan terbiasa dengan membaca. Akan tetapi, alasan kita untuk memaksa si anak untuk membaca tidaklah cukup berdasarkan manfaatnya saja. Kegiatan membaca harus disepakati atas dasar bagian dari kesenangan hidup. Kita ingatkan kepada si anak agar tidak kehilangan bagian dari kesenangan itu.
Saat yang paling mendebarkan adalah menanti kapan peran orang tua membimbing anak untuk diperkenalkan dengan buku. Kita tidak sabar menanti saat membacakan buku cerita anak bukan lagi sekadar memberi tahu nama dan gambar-gambar. Kemudian, dia mulai belajar membaca dan kita memperhatikannya dengan berbagai harapan. Lalu untuk pertama kalinya, dengan bangga, kita membawa si anak ke toko buku untuk memilih buku yang dia inginkan. Bagi orang tua yang mengantar si anak  menuju dunia perbukuan merupakan sukacita yang tiada taranya.
Namun perlu kita sadari, pembaca yang baik bukanlah dibentuk oleh keinginan orang tua. Mereka harus dibentuk atas dasar keinginan pribadi, dan tersedianya buku-buku yang mereka inginkan, serta  kemampuan daya tangkap membaca mereka.
Lalu, apakah buku yang anak-anak baca itu benar-benar disukai? Atau hanya karena tidak ada buku lainnya?
Jika ditinjau dari segi psikologi, psikologi pembaca berhubungan dengan masalah perkembangan literer. Analog dengan ajaran fase dalam psikologi perkembangan, dianjurkan sederetan model dengan titik-tolak bahwa perkembangan literer dalam urutannya terikat pada tingkat usia. Ch. Buhler menunjukkan adanya lima fase dalam proses:
1. Usia fantasi anak, usia  2-4 tahun;
2. Usia dongeng usia 4-8 tahun;
3. Usia petualangan, usia 8-11/12 tahun
4. Usia kepahlawanan, usia 12-15 tahun
5. Usia liris dan romantis, usia 15-20 tahun.
Dari aspek psikologi pembaca tersebut, kita dapat memperkirakan buku apakah kira-kira yang disukai untuk anak-anak kita.
Bahan bacaan yang tersedia bagi anak-anak dewasa ini sangat berlimpah dan beragam. Para penerbit buku berusaha memenuhi keinginan pembacanya dari berbagai tingkat usia. Akan tetapi, semua itu belum berarti apa-apa. Buku-buku yang tersedia masih belum mampu “Berbicara” terhadap mereka.
Akan tetapi, sebagian tentu ada yang demikian. Cukup banyak dari buku-buku itu yang mengenai sasarannya, yaitu minat baca anak-anak dewasa ini, tanpa melepaskan bimbingan kita terhadap mereka.
Untuk memberikan bimbingan yang bermanfaat kepada anak-anak, kita perlu mengetahui buku-buku  yang tersedia bagi anak-anak dewasa ini.
Dalam beberapa hal, kita mungkin masih memiliki  berbagai pilihan. Misalnya, kita masih memasak dengan kompor minyak, seraya mencemoohkan kompor gas. Adapula orang yang lebih senang bepergian dengan motor daripada mobil. Naik motor dapat menghindari macet. Sementara itu, pengendara mobil berpendapat bahwa dengan mengendarai mobil tidak akan kehujanan dan masuk angin.
Dalam hal ini, kita tidak dapat   memutuskan untuk mengenyampingkan berbagai bentuk komunikasi. Terutama, bentuk-bentuk komunikasi yang diminati oleh anak-anak. Kita dapat menolak kehadiran pesawat televisi di rumah, tetapi kita tidak dapat menghalangi anak dari siaran TV. Bisa saja si anak, menonton siaran TV di rumah temannya.
Banyak orang tua yang merasa cemas terhadap buku-buku yang tidak seharusnya dibaca oleh anak-anak. Mengingat banyaknya buku yang tersedia di pasar, mulai buku terbaik sampai terburuk dengan mudah  dapat dimiliki dengan harga murah. Hal itu bukan persoalan gampang untuk diberantas.
Kita melarang anak kita membaca komik yang berkualitas rendah, tetapi anak itu dapat saja membaca komik di rumah temannya.
Dalam hal ini, seperti dalam segi kehidupan lainnya, para orang tua dianjurkan memberikan bimbingan yaitu melalui sikap dan prasangka kita.
Beberapa kekhawatiran kita terhadap media memang dapat dibenarkan. Kita mempunyai alasan untuk mempertimbangkan apakah suatu acara atau cerita komik  cocok  atau tidak bagi seorang anak. Kita tidaklah salah bila mempertimbangkan bahayanya penyajian pengalaman-pengalaman yang belum siap untuk dihadapi oleh seorang anak.
Sebagai contoh: Beberapa penulis mengatakan bahwa film dan komik Crayon Sinchan sangat baik dan sukses dalam meningkatkan minat baca anak. Namun, menurut beberapa ahli psikologi cerita tersebut kurang baik bagi perkembangan anak. Sinchan sebagai tokoh utama dalam cerita itu terlalu berlebihan. Anak itu terlalu nakal, tidak layak seperti kenakalan seorang anak pada umumnya. Hal ini dikhawatirkan bahwa tindakan dalam cerita itu akan ditiru oleh anak-anak. Lebih celaka lagi jika anak-anak menganggap lazim tindakan tersebut.
Contoh lain,  sebuah acara tayangan di televisi yang berjudul Smack Down telah digandrungi oleh anak-anak. Dalam berita di surat kabar beberapa waktu yang lalu menceritakan seorang anak mengikuti perilaku orang-orang dalam acara Smack Down, sehingga mencederai temannya.
Contoh tersebut memperlihatkan betapa kuatnya pengaruh luar terhadap perkembangan jiwa anak. Anak-anak di masa usianya masih sangat kuat untuk meniru segala sesuatu hal. Terkadang mereka tidak tahu apakah hal itu baik ataupun tidak.
Oleh karena itu, bimbinglah mereka dalam menyikapi isi bacaan dan tontonan. Jangan melarang mereka untuk melakukan hal tersebut. Walaupun dalam pelaksanaannya, hal ini memanglah tidak semudah membalikkan telapak tangan. Kadang-kadang, kita menginginkan adanya sensor. Lepas dari kenyataan bahwa sensor jarang memberikan  hasil yang memuaskan.
Lantas, bagaimana kita dapat mendorong setiap anak -- apapun selera, minat dan motivasinya -- menentukan bacaan yang bermanfaat untuknya?
Sebagai orang tua, seyogianya kita mempertemukan anak-anak terhadap buku yang baik. Besar kemungkinan, anak-anak tidak dapat menerima hal-hal yang kita katakan “baik”. Kita harus siap menafsirkan konsep “baik” itu dengan lebih luwes dan bijaksana.
Namun, biarlah mereka sendiri yang menentukan apa yang akan mereka ambil untuk kehidupannya. Walaupun mereka mungkin tidak mengambil apapun dari yang kita rasa baik, sedikitnya mereka telah mempelajari  kriteria kita. Kriteria inilah yang akan mereka terapkan dalam mencari norma ataupun nilai-nilai yang memberi arti bagi mereka.
Dengan demikian, apapun perkembangan yang terjadi, anak-anak kita memperoleh pelajaran, norma kehidupan, dan hiburan dari banyak sektor. Semua sumber itu mengacu kepada buku. Mereka akan membaca buku, di samping melihat dan mendengar berbagai hal lain. Harapan kita adalah agar buku-buku yang mereka baca memperkaya pengalaman dan pengetahuan mereka.






Tidak ada komentar:

Posting Komentar