Rabu, 17 Agustus 2016

Mencermati Sistem Pendidikan Barat Melalui Film Dawson's Creek


Mencermati Sistem Pendidikan Barat
Melalui Film Dawson’s Creek


Oleh: Yudi Purbowinanto*

Pada mulanya, kehadiran film Dawson’s Creek tampak seperti kehidupan para remaja Barat dengan pergaulan yang bebas dan penuh keglamoran serta kehura-huraan. Suatu penilaian negatif yang sepintas diberikan jika melihat penampilan luarnya saja, mengingat film seri remaja sebelumnya  dengan judul  berbeda yang menceritakan kehidupan pelajar di suatu kota dengan kehidupan yang glamor dan mewah. Belakangan muncul kritikan-kritikan tentang film ini.  Berbagai alasan dikemukakan, seperti pergaulannya yang terlalu bebas, dll.
Lalu, dengan kritikan-kritikan tersebut apakah kita akan selamanya menutup diri dari film-film yang nota bene berasal dari Barat? Kemudian, dapatkah kita berkembang dengan menutup diri itu?. Hal ini karena ada kemungkinan semua film-film Barat, selalu menyuguhkan cerita sesuai dengan budaya mereka.
Tentunya, jika hal ini terus berlanjut  yang terjegal pastilah film-film remaja. Mengapa begitu? Karena ya memang selalu begitu. Itulah kehidupan remaja di sana yang kita bilang kurang bagus untuk perkembangan anak-anak di Indonesia.  Lalu, bagaimana dengan film-film dewasa?
Ternyata, setelah menyaksikan dan mengapresiasi film Dawson’s Creek tersebut dari seri ke seri, ada pengalaman baru yang membuka mata penulis. Melalui tulisan ini, penulis hendak mengajak kepada pembaca untuk membagi pengalaman yang  telah diperoleh dengan menonton/mengapresiasi film ini.
Pada kesempatan ini, penulis hanya akan membangi pengalaman dari film tsb dari sistem pendidikan. Film ini menceritakan mengenai persahabatan empat orang remaja yang tinggal di kota kecil. Mereka bernama Dawson (diperankan oleh.J.Van Der Beek), Pacey (diperankan oleh Joshua Jacson), Joey (Katie Holmes), dan Katherine (Michele Williams). Mereka berempat sekolah di tempat yang sama  setingkat SMU. Di sekolah itu, para siswa telah mendapatkan pendidikan khusus dengan jurusan masing-masing. Ada yang mendalami seni lukis, film, ekonomi, dan lain-lain.
Pemeran utama dari film itu adalah Dawson. Di  sekolah, ia lebih suka mendalami bidang film. Bahkan, dalam sebuah lomba, ia sempat meraih juara.
Pada kesempatan lain, Dawson hendak memproduksi film keduanya. Film kedua ini mengundang pertentangan antara ia dan mantan pacarnya (Joey). Pasalnya, film ini mengisahkan tentang kisah cintanya yang telah lalu dengan Joey mantan pacarnya yang kini kembali berstatus sebagai sahabat. Di satu pihak Dawson mengangkat kisah cintanya karena ia belum dapat melupakan Joey. Di pihak lain, Joey  merasa cemburu  dan terganggu karena ia diperankan oleh seorang artis yang masih sebaya mereka. Kecemburuan itu terjadi karena artis tersebut sangat dekat dengan Dawson. Padahal, Dawson dekat dengan artis tersebut sebatas dalam pekerjaan saja. Dawson puas dengan hasil kerja artis itu. Ketergangguan Joey di sisi lain karena artis tersebut selalu memperhatikan gerak-gerik dan tingkah lakunya. Bahkan, berkali-kali artis tersebut menanyakan bagaimana Joey jika sedang marah. Joey sangat terganggu dengan pertanyaan-pertanyaan itu. Namun, artis itu tidak putus asa. Suatu saat ia menyebarkan isu yang memancing kemarahaan Joey. Dari situlah, artis itu mendapatkan karakter Joey yang sedang marah. Ia lalu berterima kasih dan pergi. Joey yang sedang marah jadi bingung dibuatnya. Ternyata, isu itu adalah cara untuk memancing kemarahannya saja.
Betapa mengesankan orang Barat dalam menekuni bidang yang disukainya dalam hal ini tokoh Dawson. Bahkan, dengan profesional, ia mengerjakan pekerjaan itu.  Padahal, jika dilihat dari usia dan pendidikan ia baru setingkat dengan SMU di negara kita. Dawson sangat bersungguh-sungguh dalam menciptakan suatu karya. Contoh lain diperlihatkan oleh tokoh sang artis. Segala cara ia lakukan agar pekerjaannya sempurna.  Dengan usianya yang sedemikian muda, mereka sangat bertanggung jawab dengan pekerjaannya dan mencurahkan semua tenaga dan pikiran untuk pekerjaannya.
Sementara itu, di negara kita, belum banyak yang dapat dilakukan oleh anak setingkat SMU. Hal ini mungkin karena berbagai kendala, seperti fasilitas, tenaga pengajar, dan lain-lain. Jika saja sekolah- sekolah menengah telah difasilitasi  seperti dalam film itu, tentunya  siswa-siswa di Indonesia pun akan memiliki kemampuan yang sama dengan siswa di negara-negara  Barat. Tentunya, hal ini akan berdampak kepada lapangan pekerjaan dan kesejahteraan. Para lulusan sekolah menengah  tidak akan lagi kebingungan dengan apa yang harus dilakukannya jika mereka tidak melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi.
Usaha untuk mengarah ke sana telah ada sejak dulu dengan adanya sekolah kejuruan. Tinggal saja kualitasnya lebih ditingkatkan. Selain itu, alangkah baiknya jika ada jurusan-jurusan lainnya seperti teater, seni, dll.  Atau, hal-hal di atas dapat dilakukan seperti kegiatan ekstra kurikuler yang benar-benar mendapatkan dukungan dari sekolah dan pemerintah. Mengapa demikian? Tentunya hal ini berkaitan dengan dana. Selama ini, kegiatan ekstra kurikuler di  sekolah menengah  masih lemah, kurang perhatian, dan kurang beragam.
Dalam film itu sekolah memiliki fasilitas yang lengkap, sehingga siswa dapat mengembangkan bakatnya. Sebaliknya di negara kita, sekolah-sekolah banyak sekali yang tidak memiliki fasilitas, bahkan fasilitas dasar pun seperti perangkat untuk menunjang kegiatan belajar masih ada yang belum punya.
Pada episode lain, diceritakan bahwa hasil karya para siswa dipamerkan dalam sebuah acara pasar seni. Dawson sangat bangga dengan film hasil karyanya. Kemudian, di sana hadir seorang guru baru di bidang perfilman. Dawson ingin memperlihatkan hasil karyanya. Lalu, ia dan guru barunya itu menonton filmnya. Ketika film itu sedang berlangsung, terlihat bahwa Dawson bangga dengan hasil karyanya. Ia merasa yakin bahwa karyanya itu bagus karena telah ia garap dengan sungguh-sungguh. Dalam benaknya terlintas bahwa guru itu akan mengaguminya dan akan membawanya ke Hollywood yang memang merupakan barometer perfilman dunia.
Ketika film usai, Dawson menanyakan komentar sang pengamat. Dengan singkat sang pengamat mengatakan “lumayan”. Dawson menjadi semakin penasaran. Ia tidak puas hanya dengan jawaban “lumayan.” Sebenarnya, harapannya lebih dari itu. Ia pun memaksa untuk mengatakan yang sejujur-jujurnya tentang film itu. Dengan berat, sang guru mengungkapkan dengan sebenarnya bahwa film yang dibuat oleh Dawson tidak bermutu, tidak ada misi, klimaksnya tidak menarik, dan lain sebagainya. Dawson berusaha membela dan menghibur diri bahwa ia memang masih belajar dan tentunya film itu masih berlanjut. Namun, komentar sang pengamat akan percuma kalau Dawson melanjutkan film itu.Kemudian, Dawson pun akan sulit untuk menembus Hollywood.
Dari hasil pengamatan film di atas menggambarkan bahwa hidup ini memang keras. Kehidupan seseorang tidak akan lurus-lurus saja sesuai dengan keinginannya. Bahkan, kita harus lebih berusaha lagi walaupun sudah berusaha. Komentar-komentar pedas yang diberikan oleh sang pengamat adalah semata-mata cambuk agar Dawson berusaha lebih keras lagi. Dalam kehidupan, kegagalan adalah hal yang biasa. Pepatah mengatakan bahwa kegagalan adalah pangkal dari keberhasilan.
Peristiwa lain di bidang pendidikan yang muncul dalam episode lain adalah saat berlangsungnya pelajaran sastra. Seluruh siswa ditugaskan untuk membuat puisi. Guru sastra itu adalah seorang laki-laki tua yang dikenal cukup galak.
Ketika memeriksa hasil kerja siswanya, guru tersebut membaca sebuah karya yang cukup aneh. Pasalnya, seorang siswa laki-lakinya membuat sebuah puisi yang mendambakan seorang laki-laki. Kecurigaan bahwa siswa itu adalah seorang gay pun muncul. Lalu, sang guru menugaskan kepadanya untuk membacakan puisinya. Tentulah hal itu membuat bahan tertawaan teman-temannya.
Sebenarnya, apakah yang menyebabkan guru itu menugaskan kepada murid itu untuk membacakan puisinya. Ada beberapa kemungkinan yang menyebabkan  guru itu menugaskan kepada murid itu untuk membacakan puisinya. Pertama, guru itu segaja mengolok-olok murid itu karena ia menduga bahwa murid itu adalah seorang gay. Kedua, guru itu hendak menyadarkan bahwa murid itu adalah seorang laki-laki, tidak sepatutnya membuat puisi seperti itu.Ketiga, guru itu hendak menguji keberanian murid untuk mengungkapkan jati dirinya.
Namun, tidak halnya dengan Pacey yang teman sebangku dan kekasih kakaknya. Pacey merasa kasihan. Ia mencoba membelanya. Pertengkaran pun terjadi antara Pacey dan guru sastra itu. Bahkan, Pacey sempat  (maaf...red) meludahi guru itu.  Akhirnya, kasus itu disidangkan di ruang kepala sekolah. Pacey pun mendapat hukuman  berupa skorsing.
Pacey sangat menyesalkan kejadian itu. Begitu pula halnya dengan teman-temannya. Harapan Pacey, setelah menjalani hukuman skorsing, semua akan kembali dengan normal. Namun, kenyataannya lain. Kini, guru itu terus menerus menyudutkan Pacey. Sepertinya, ia tidak memaafkan perbuatan Pacey. Bahkan, Pacey terancam tidak lulus mata pelajaran Sastra.
Pacey pun memberontak. Ia melaporkan kejadian itu pada kepala sekolah. Bahkan, argumennya diperkuat dengan menyodorkan peraturan pendidikan yang menjerat guru itu. Pacey menjelaskan bahwa guru itu masih menaruh rasa dendam, sehingga guru itu telah bersikap subjektif.  Mendengar penjelasan Pacey, kepala sekolah pun tidak dapat mempertahankan guru itu. Akhirnya, guru tersebut diberhentikan dari sekolah.
Ketika guru itu sedang mengemas barang-barangnya, Pacey datang menghampirinya. Dengan wajah yang memperlihatkan kebingungan dan penyesalan ia mencoba meminta maaf dan berkata bahwa pengaduannya kepada sekolah bukan bermaksud agar gurunya itu diberhentikan dari sekolah. Harapannya hanyalah guru itu akan menyadari tindakannya.
Namun, apa yang dikatakan oleh gurunya? Ia hanya bilang sudah terlambat.  Kariernya yang  telah dijalani selama bertahun-tahun di sekolah itu  kini telah hancur. Lalu, guru itu berkata bahwa seburuk-buruknya cara mengajar dia,  dengan peristiwa ini, Pacey dan teman-temannya telah mendapatkan pelajaran yang berharga darinya. Lalu, ia pun pergi meninggalkan sekolah itu.
Bagi Pacey dan teman-temannya menganggap bahwa gurunya salah. Padahal, ada hikmah yang dapat diambil dari peristiwa ini. Guru sastra itu tidak semata-mata hanya mengajar pelajaran sastra. Bahkan, ia pun secara tidak disadari oleh muridnya telah mendidik siswa belajar berdemokrasi, berani mengungkapkan pendapat, dan belajar mengungkapkan jati dirinya.
Bagaimana halnya jika peristiwa ini terjadi di masyarakat kita? Sesuai dengan adat ketimuran, guru adalah sosok orang yang dihormati, menjadi panutan, selalu digugu dan ditiru oleh muridnya. Ia dan posisinya selalu menempatkan diri di atas murid. Murid menerima pendidikan dari gurunya seolah-olah yang diucapkannya selalu benar. Ada kecenderungan, guru merasa gengsi untuk menerima masukan dari muridnya. Padahal, sukses pendidikan salah satunya adalah dengan terjadinya komunikasi dua arah dengan baik. Guru menjelaskan dengan baik dan murid dengan berani dan lantang bertanya jika ada yang kurang jelas atau ada komentar.
Ada dua kemungkinan yang dapat terjadi. Pertama, peristiwa itu tidak akan  terjadi di masyarakat kita mengingat budaya demokrasi di masyarakat kita masih kurang. Yang terjadi mungkin akan sebaliknya. Kemungkinan kedua, jika peristiwa itu terjadi, murid akan dikeluarkan dari sekolah.Hal ini terlepas dari guru itu benar atau salah, tindakan yang dilakukan oleh murid sangat menjatuhkan wibawa pendidikan. Padahal, jika kita renungkan, sekolah itu adalah tempat mendidik orang yang tidak tahu menjadi tahu. Sekolah tempat memperbaiki orang yang salah menjadi benar. Orang salah itu ibarat cucian kotor. Cucian yang kotor tidak akan dibuang oleh pemiliknya, tetapi dimasukkan ke dalam mesin cuci. Sekolah itu adalah mesin cucinya. Manakah yang akan terjadi, kemungkinan pertama, kemungkinan kedua, atau peristiwa yang terjadi dalam film itu dapat pula terjadi di masyarakat kita? Marilah kita renungkan bersama.
Peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam film itu hanyalah sebuah wacana. Penulis hanyalah mencermati film itu dan melihat kenyataan di masyarakat kita. Tak salah bila film ini disajikan oleh sebuah stasiun televisi pendidikan dan disponsori oleh beberapa lembaga pendidikan. Semoga, para pembaca dapat mengambil manfaat dari menonton dan mencermati film ini.


  *(Penulis adalah seorang editor dan penulis buku di Bandung)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar