Minggu, 20 November 2016

Tujuan dan Manfaat Pendidikan Akhlak

Sebagian manfaat dan tujuan dari mempelajari ilmu akhlak adalah untuk meningkatkan derajat kehidupan manusia, menuntun kepada kebaikan, memenuhi kebutuhan keluarga, mengatur tata cara hidup bertetangga, mengatur adab pergaulan berbangsa dan bernegara, serta tujuan dan manfaat lain dari mempelajari ilmu akhlak akan dipaparkan lebih detail di bawah ini.
Ilmu akhlak akan meningkatkan derajat kehidupan manusia
Orang yang beriman dan berilmu (termasuk di dalamnya adalah ilmu akhlak), akan lebih utama daripada orang yang tidak beriman dan berilmu. Sebab dengan pengetahuan ilmu akhlak, seseorang akan lebih sadar mana yang baik dan mana yang tidak baik, mana yang mengantarkan kepada kebahagiaan dan mana yang menjerumuskan kepada kesesatan dan kesengsaraan untuk dirinya. Dengan demikian seseorang akan selalu berusaha untuk bisa memilih dan melakukan kebaikan atas petunjuk Allah dan memperoleh keridloan Allah swt. sehingga bisa menjauhkan diri dari hal-hal yang tersela dan dimurkai oleh Allah swt.
Firman Allah swt dalam Al-Qur'an :
يَرۡفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنكُمۡ وَٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡعِلۡمَ دَرَجَٰتٖۚ وَٱللَّهُ بِمَا تَعۡمَلُونَ خَبِيرٞ 
Artinya : Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. AL-Mujadalah : 11)
Ilmu Akhlak menuntun kepada kebaikan
Ilmu akhlak merupakan pendorong dan pemicu yang dapat mempengaruhi diri seseorang untuk membentuk hati yang suci baik lahir dan batin yang akan berguna bagi sesama manusia ataupun makhluk yang lain. 
Dengan ilmu akhlak manusia akan ditunjukkan dan diajarkan cara-cara membentuk pribadi yang mulia, menuntun kepada akhlak yang baik dan terpuji sebagaimana firman Allah swt dalam Al-Qur'an al-karim yang berbunyi :
 وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٖ 
Artinya : Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung. (QS. Al-Qalam : 4)

Dan dalam sebuah Hadits Nabi Muhammad saw
Artinya : Rasulullah saw adalah seorang manusia yang paling baik akhlaknya. (HR. Bukhari-Muslim)
Ayat dan dalil hadits tersebut di atas menjelaskan bahwa Nabi Muhammad saw telah memperoleh pengetahuan tentang akhlak dari al Qur'an, kemudian beliau melaksanakannya sehingga beliau menjadi manusia yang berakhlak mulia.
Tujuan mempelajarai ilmu akhlak akan menyempurnakan iman

Akhlak mulia adalah meripakan manifestasi dari kesempurnaan iman seseorang. Sebagaimana dalil hadits Nabi Muhammad saw. yang artinya :

"Orang yang paling sempurna imannya adalah yang terbaik akhlaknya. (HR. Turmidzi)

Dalam keterangan hadits di atas, menjelaskan bahwa orang yang sempurna imannya adalah orang yang baik akhlaknya.

Memperoleh keutamaan di hari kemudian.

Manfaat dan tujuan yang lain dari mempelajari ilmu akhlak adalah akan mendapatkan akhlak mulia. Dengan mendapatkan akhlak yang mulia, maka akan memperoleh derajat yang terhormat di hari kiamat nanti.. Sebagaimana sabda Rasulullah Nabi Muhammad saw. :

ما من شيءٍ أثقلُ في ميزان العبد المؤمن يوم القيامة من حُسن الخلق. وإن الله يبغض الفاحش البذي

Artinya : Tiada sesuatu yang lebih berat timbangan seseorang mukmin di hari kiamat daripada akhlak yang baik. Dan Allah sangat benci kepada orang yang kotor (keji) mulutnya dan kelakuannya (HR. Turmidzi)

Memenuhi hajat pokok keluarga

Akhlak juga merupakan kebutuhan pokok dalam kehidupan spiritual sebagaimana kebutuhan pokok yang lain, seperti kebutuhan makanan, minuman, tempat tinggal dan kebutuhan pokok yang lain. Maka akhlak merupakan faktor yang penting dalam membina dan menegakkan kehidupan keluarga yang sejahtera lahir dan batin.

Sebuah keluarga yang tidak terbina dengan baik akhlaknya dengan akhlak yang baik, maka tidak akan merasakan kehidupan yang bahagia, karena akan dijauhkan dari pengaruh atau pergaulan orang banyak. Akhlak yang mulia dan baik itulah yang akan menjamin keharmonisan hidup dalam rumah tangga, menjalin cinta kasih semua pihak. Dan dengan akhlak yang mulia dapat dijadikan sebagai benteng apabila datang malapetaka yang melanda kehidupan dalam rumah tangga.

Membina kerukunan hidup bertetangga.

Dengan mempelajari ilmu akhlak mempunyai tujuan dan manfaat dapat membina kerukunan hidup bertetangga. Dalam kehidupan bertetangga., diperlukan budi pekerti atau akhlak yang baik, mulia dan luhur. Sebab kerukunan hidup antara tetangga itu hanya akan terjadi apabila setiap orang saling hormat-menghormati, tolong-menolong dan menjauhkan diri dari perbuatan-perbuatan yang merugikan tetangga,

Sabda nabi Muhammad saw . :


لا يدخل الجنة من لا يأمن جاره بوائقه

Artinya : Tidak akan masuk surga, orang yang membuat tetangganya tidak tentram karena kejahatannya. (HR. Nukhari-Muslim)

Membina Remaja

Dari dulu hingga sekarang banyak sekali masalah kenakalan-kenakalan remaja seperti penyalahgunaan obat narkotika, minuman keras, narkotika, perkelahian, dan lain sebagainya. Hal ini adalah disebabkan karena kurangnya atau tidak terbinanya akhlak di kalangan remaja.

Pada umumnya remaja-remaja yang terlibat berbagai kenakalan-kenakalan remaja adalah remaja yang tidak mengenal akhlak yang baik, mulia dan luhur. Sebaliknya para remaja yang berprestasi, sopan santun dan berhasil mencapai cita-cita mereka adalah dikarenakan tercapai tujuan dan manfaat dari akhlak yang mulia dan luhur budi pekertinya. Hal yang demikian tentunya karena adanya pembinaan akhlak yang baik di kalangan remaja dalam hal sopan santun, bertata krama dan lain sebagainya.

Membina pergaulan umum

Tujuan dan manfaat ilmu akhlak adalah untuk membina pergaulan umum. Akhlak menempati posisi dan peranan yang penting dalam kehidupan dan tata pergaulan umum. Salah satu contoh dapat dikemukakan : setiap orang yang dapat diterima sebagai karyawan atau pekerja baik dalam perusahaan swasta ataupun pemerintah adalah mereka yang dapat menunjukkan surat keterangan yang menyatakan bahwa mereka berkelakuan baik atau dalam istilah sekarang adalah SKCK (Surat keterangan cakap kelakuan).

Pada orang yang berakhlak rendah akan selalu dijauhkan dari pergaulan umum. Dan dimanapun ia berada akan banyak orang yang tidak menyukainya.

Sebaliknya, apabila seseorang berakhlak yang baik,mulai dan luhur maka dimanapun ia berada akan banyak orang yang menyukainya sehingga ia mudah untuk berhubungan dengan siapapun. Dan biasanya orang dengan sikap seperti ini akan mudah memperoleh rizki serta mudah dalam keberhasilan berusaha.

Mensukseskan pembangunan negara

Tujuan dan manfaat selanjutnya mempelajari ahklak adalah dapat mensukseskan pemabngunan negara.

Akhlak merupakan salah satu faktor yang wajib ada atau mutlak dalam pembanguan bangsa dan karakter bangsa secara utuh. Oleh sebab itu hendaknya pembangunan akan lebih baik apabila pemimpin dan warganya berakhlak mulia sehingga pembangunan negara akan sukses dan tercapai dengan baik.

Sebaliknya, apabila akhlak para pemimpin dan warganya rusak (misalnya korupsi, kolusi, nepotisme, keadilan tidak merata, dll), maka niscaya pembangunan di suatu yang diharapkan sukses dan berhasil baik tidak akan tercapai. Hal ini seperti yang dilakukan oleh Syauqi Bey, dalam gubahan syairnya :

وإنما الأمم الأخلاق ما بقيت فإن همُ ذهبت أخلاقهم ذهبوا
Artinya : suatu bangsa dikenal (jaya) karena akhlaknya. Bila akhlaknya rusak, maka rusaklah bangsa itu."

Dapat dikatakan bahwa kejayaan atau kehancuran suatu bangsa terletak pada akhlaknya. Apabila suatu bangsa berakhlak mulia, maka tersohorlah bangsa itu. Namun apabila bangsa itu rusak akhlaknya maka rendahlah (hancurlah) nama suatu bangsa.

Menciptakan keakraban hidup antar bangsa dan negara

Tujuan mempelajari ilmu akhlak dan manfaatnya adalah dapat menciptakan keakraban hidup antar bangsa dan negara di dunia.

Apabila para pemimpin dunia berakhlak baik, mulia dan bijaksana, niscaya masyarakat dunia akan merasakan kebahagiaan dan perdamaian. Namun sebaliknya, apabila pemimpin dunia itu rusak akhlaknya, maka akan besar sekali kemungkinannya dimana-mana akan terjadi peperangan yang tentunya akan membawa banyak korban baik harta maupun jiwa.

Apabila akhlak mulia ini tidak dimiliki oleh para pemimpin dunia dan juga warga masyarakat dunia seluruhnya maka akan membawa kehancuran dunia baik di darat. laut maupun udara. Hal yang demikian ini adalah akibat dari perbuatan-perbuatan manusia yang tidak bertanggung jawab akibat pengaruh dari hawa nafsu jahat yang tidak terkendalikan.

Sebagaimana dijelaskan dan diterangkan dalam Kitabullah Al-Qur'an yang berbunyi :

ظَهَرَ ٱلۡفَسَادُ فِي ٱلۡبَرِّ وَٱلۡبَحۡرِ بِمَا كَسَبَتۡ أَيۡدِي ٱلنَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعۡضَ ٱلَّذِي عَمِلُواْ لَعَلَّهُمۡ يَرۡجِعُونَ  '

Artinya : Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). (QS. Ar-Rum : 41)

Dengan demikian jelaslah bahwa kehidupan di dunia ini tidak dapat dilepaskan dari akhlak para pemimpinnya. Apabila dunia ini dipimpin oleh orang yang berakhlak mulia, maka roda perjalanan kehidupan dunia ini akan aman, sejahtera dan sentosa.

Itulah beberapa tujuan dan manfaat mempelajari ilmu akhlak yang bersumber dari Kitabullah al-Qur'an dan dalil hadits Nabi Muhammad saw. Semoga kita semua dikarunia Allah menjadi hamba Allah yang terbaik, berakhlak dan berbudi pekerti yang luhur dan mulia. Amiin

Senin, 14 November 2016

Pendidikan Tinggi dalam Kompetisi Global

Pendidikan Tinggi dalam Kompetisi Global

Joko Triloka | Dosen IBI Darmajaya Bandarlampung

Perkembangan pendidikan tinggi dewasa ini telah menimbulkan keprihatinan meluas di tengah masyarakat. Terlebih dihadapkan pada krisis multidimensional yang berkepanjangan. Masyarakat pun mengharapkan kepastian bagaimana bangsa ini akan menghadapi kompetisi global. Demikian berbagai indikator sosial dan ekonomi juga telah menunjukkan bahwa posisi bangsa ini makin tertinggal dari bangsa-bangsa lain dalam kompetisi global.  BAGAIMANA pendidikan tinggi mencari jalan keluar dan bersama-sama masyarakat menggalang upaya untuk menyelesaikan persoalan bangsa ini? Bagaimana pula perguruan tinggi meningkatkan mutu akademiknya di tengah keterbatasan sumber daya dan kurangnya perhatian dan dukungan lingkungan?  
Kesemuanya ini menjadi latar belakang perlunya transformasi perguruan tinggi pada era kompetisi global sekarang ini. Pemikiran bagaimana menempatkan pendidikan tinggi sebagai ujung tombak perubahan bangsa sebenarnya sudah berlangsung sejak lama. Berulang kali para pembuat kebijakan pendidikan tinggi dihadapkan pada pilihan-pilihan antara pemerataan pendidikan atau pengembangan pusat keunggulan (centers of excellence). Memasuki milenium ketiga, tampaknya, pilihan telah ditentukan. Kita tidak dapat mewujudkan keunggulan di segala bidang, di semua tempat, dan pada waktu yang bersamaan. Karena itu, strategi pengembangan pendidikan tinggi diarahkan pada pemberian peluang kepada perguruan tinggi yang mempunyai potensi dan kapasitas untuk mengembangkan dirinya meraih keunggulan kompetitif. Yakni keunggulan akademik atau yang sering kita sebut sebagai academic excellence.
Peranan perguruan tinggi dalam mempersiapkan daya saing bangsa mengarungi era persaingan global sudah sangat urgency. Pada umumnya pendidikan tinggi di negara ini telah tertinggal, bahkan terasing dari kebutuhan dan realitas sosial, ekonomi, serta budaya masyarakatnya. Perguruan tinggi memerlukan otonomi dan independensi untuk dapat memulihkan perannya itu keluar dari menara gading dan terlibat secara langsung sebagai agent of change dalam perubahan masyarakat. 
Memosisikan sebuah perguruan tinggi pada barisan perguruan tinggi-perguruan tinggi terbaik memerlukan perubahan yang fundamental sehingga mampu bersaing (better competitive situation). Sebuah perguruan tinggi harus memiliki strategic intent. Untuk mewujudkannya perlu dilakukan transformasi kelembagaan yang lebih kompleks dari sekadar pengembangan organisasi (organization development). Perguruan tinggi merupakan lembaga, dibangun komunitas akademik yang bersifat kolegial, dan menjunjung tinggi academic value untuk mencerdaskan bangsa. Ini yang membedakannya dengan organisasi lain. 
Melakukan perubahan fundamental untuk dapat menghasilkan nilai-nilai akademik, sosial, dan ekonomi merupakan kata kunci dalam transformasi sebuah perguruan tinggi. Transformasi kelembagaan ini mencakup penyelarasan atau perancangan ulang dari strategi, struktur, sistem, stakeholders relation, staff, skills (competence), style of leadership, dan shared value. Upaya transformasi kelembagaan ini diharapkan dapat merevitalisasi peran perguruan tinggi agar mampu berperan secara optimal dalam mewujudkan academic excellence for education, for industrial relevance, for contribution for new knowledge, dan for empowerment. 
Keberhasilan transformasi pendidikan tinggi adalah faktor kunci agar perguruan tinggi dapat berkiprah dalam kompetisi global. Restrukturisasi, rekonstruksi, reposisi, dan revitalisasi berbagai fungsi serta komponen organisasi diperlukan dalam proses transformasi ini. Secara garis besar, ada tiga prasyarat keberhasilan transformasi perguruan tinggi.
Pertama, penyelarasan secara bertahap struktur kelembagaan (program dan sumber daya) dengan perilaku civitas akademikanya untuk mencapai kinerja yang ditargetkan (performance). Setiap anggota civitas akademika harus mempunyai komitmen terhadap target mutu, ketepatan waktu, dan efektivitas program. Kedua, orientasi proses akademik pada pelayanan dan kepuasan stakeholders. Ketiga, kemampuan untuk menerapkan management best practice dalam pengelolaan dan pengembangan perguruan tinggi.
Munculnya kesadaran (awareness) bahwa bangsa ini memerlukan perguruan tinggi yang dapat diandalkan dalam kompetisi global merupakan faktor penting dalam memulai suatu perubahan. UU Sistem Pendidikan Nasional yang mengamanatkan pendidikan memperoleh 20% dari APBN merupakan peluang untuk melakukan transformasi pendidikan tinggi di negara ini. Namun, diperlukan keberanian untuk melakukan perubahan, do the right thing right at the first time merupakan semboyan yang harus didengungkan. Perguruan tinggi harus mengembangkan dirinya dan menyerap keterampilan management best practice sehingga dapat menjalankan good university governance.
Dalam menjawab pertanyaan mengapa perguruan tinggi di negara ini belum dapat menghasilkan lulusan yang mampu berkompetisi di pasar tenaga kerja global dan bagaimana pengalamannya, maka dapatlah dikatakan bahwa secara umum persoalan ini berkaitan dengan kompetensi lulusan. Proses belajar yang berlangsung di kampus seharusnya memberikan jaminan mutu pada ketiga faktor kompetensi knowledge, skill, dan attitude. Ketidakmampuan bersaing ini disebabkan adanya kesenjangan antara kualifikasi yang diperlukan dengan kompetensi lulusan. Perguruan tinggi harus menyiapkan lingkungan belajar yang kondusif untuk terbentuknya kompetensi tersebut, perguruan tinggi memerlukan exposure international, jaringan kerja sama dengan universitas di luar negeri, pertukaran mahasiswa, dan lain-lain.  
Selain itu, perguruan tinggi perlu mengupayakan peningkatan kemampuan pendanaan dengan bijaksana dan kreatif. Perguruan tinggi harus menghindari opini komersialisasi yang berlebihan, khususnya dalam penerimaan mahasiswa baru. Sedapat mungkin diupayakan, dirancang sistem penerimaan mahasiswa yang memenuhi prinsip keadilan, menjamin akses, dan ketepatan metode (appropriateness).
Model penerimaan mahasiswa diusahakan terus diperbaiki dari segi alat ukurnya dan kemungkinan peran serta orang tua mahasiswa yang mampu dalam turut memikul biaya pendidikan. Singkatnya, setiap implikasi dari kebijakan penerimaan mahasiswa perlu dikaji dan dicarikan jalan keluarnya (subsidi silang, sponsorship, bekerja paro waktu di perguruan tinggi, dll.).
Sebagai sebuah lembaga akademik, peran perguruan tinggi sebagai penggerak utama, prime mover, bagi perubahan sosial jelaslah terkait erat dengan pencapaian academic excellence. Ini juga berarti bahwa academic excellence yang dicapai harus selaras dengan arah perubahan sosial yang dikehendaki bersama oleh segenap masyarakat. 
Pencapaian academic excellence dalam artian di atas mejadi panduan dalam pengembangan manajemen mutu dan upaya peningkatan mutu menjadi tanggung jawab dari setiap anggota civitas akademika. Untuk mewujudkan kebijakan mutu ini perlu dikembangkan sistem manajemen mutu yang bertujuan memastikan konsistensi mutu dalam layanan jasa pendidikan serta mengevaluasi dan meningkatkan pencapaian sasaran mutu. Langkah konkret dalam membuat proses pencapaian mutu, misalnya, menetapkan indikator-indikator seperti minimum 50% lulusannya mencapai indeks prestasi (IP) sekurang-kurangnya 3.0; minimum 50% lulusan menyelesaikan studinya tepat waktu; dan minimum 60% dosen mencapai indeks kinerja lebih dari 3.0. Selain itu, bentuk peningkatan mutu yang dapat dilakukan pada area layanan akademik seperti penyediaan sarana dan prasarana pendidikan seperti perpustakaan, ruang kuliah, ruang studio/seminar, infrastruktur internet, serta pembuatan perangkat lunak administrasi akademik.

Kampus sebagai Laboratorium Kehidupan
Idealnya sebuah lembaga pendidikan memang bisa berperan sebagai ’’laboratorium kehidupan dan alam semesta” yang berskala mini. Meskipun mewujudkan lembaga yang ideal tidak mudah dan membutuhkan biaya yang sangat tinggi, langkah-langkah yang realistis ke arah itu dapat ditempuh. Pertama, menjadikan kampus sebagai ’’indigo society”, di mana proses belajar mengajar dan bermain menjadi satu. Seperti dalam kehidupan sosial anak-anak, mereka belajar melalui bermain dan bermain lewat belajar. Dalam bermain ini, mereka melakukan eksplorasi terhadap berbagai hal dan berbagi pengalaman dengan teman-temannya.
Di dalam kampus, indigo society dapat terwujud melalui keterlibatan mahasiswa dalam berbagai kegiatan di unit-unit penelitian, unit-unit usaha, unit-unit kegiatan mahasiswa, dan unit-unit pemberdayaan masyarakat. Ini memberikan kesempatan pada mahasiswa untuk banyak berlatih, bereksplorasi, dan berinteraksi lebih dekat dengan para dosen.
Yang kedua, berpegang pada prinsip relevance bahwa apa-apa yang menjadi pokok bahasan di dalam kampus juga –kurang lebih– merupakan apa-apa yang dibahas dalam konteks sosial yang lebih luas, meskipun dengan kedalaman dan kekompleksan yang berbeda. 
Yang ketiga adalah menjadi ’’gaul”. Kemampuan bergaul adalah sejenis kemampuan/keterampilan untuk menjalin hubungan antarpersonal. Ini mencakup kemampuan untuk mendengarkan dan memahami orang lain dan kemampuan untuk membuat diri sendiri bisa dimengerti oleh orang lain. Sarana utama dalam bergaul adalah komunikasi dan ’’kunci” bagi komunikasi adalah to listen. Di dalam kampus ’’gaul” dapat ditingkatkan dengan cara memperbanyak dan memperkaya bentuk forum-forum interaksi antarmahasiswa, antara mahasiswa dengan dosen, antara siswa, serta karyawan dengan dosen. Interaksi-interaksi ini diupayakan untuk bisa berlangsung dalam suasana yang rileks tapi tanpa mengurangi keseriusan, terbuka, dan akrab. Dalam situasi demikian, seseorang tidak akan mengalami hambatan psikologis untuk berusaha lebih mengenal orang lain ataupun untuk memperkenalkan diri.
Dalam konteks ini, institusional pendidikan perlu mampu mencapai academic excellence yang terus-menerus memotivasi, baik para mahasiswa, para dosen, maupun segenap tenaga pendukung pendidikan. Untuk mencapai tersebut perlu dikembangkan sistem manajemen mutu, menghidupkan suasana ’’indigo society”, mempromosikan relevance, dan ’’gaul”. 
Dengan langkah-langkah demikian, diharapkan kampus dapat berperan bukan saja sebagai ’’laboratorium kehidupan” mini, melainkan juga sebagai salah satu learning center bagi masyarakat luas untuk bisa mewujudkan dunia pendidikan yang semakin cerah dan mencerahkan.

Manajemen Sarana dan Prasarana Sekolah

Manajemen sarana dan prasarana pendidikan di sekolah pada dasarnya merupakan salah satu bidang kajian manajemen sekolah atau manajemen pendidikan dan sekaligus menjadi tugas pokok manajer sekolah atau kepala sekolah. Manajemen sarana dan prasarana dapat didevinisikan sebagai proses kerjasama pendayagunaan semua sarana dan prasarana pendidikan secara efektif dan efisien. Sarana sekolah menirit Ibrahim adalah semua perangkat peraturan, bahan, dan perabot yang secara langsung digunakan dalam proses pendidikan di sekolah. Menurut pakar pendidikan mengklasifikasikannya menjadi beberapa macam sarana pendidikan yang ditinjau dari beberapa sudut pandang. Pertama, ditinjau dari habis dan tidaknya di pakai, kedua, di tinjau dari bergerak dan tidaknya, ketiga, ditinjau dari hubungan proses belajar mengajar. Prasarana pendidikan adalah semua kelengkapan dasar yang secara tidak langsung menunjang pelaksanaan proses pendidikan di sekolah. Prasarana pendidikan di sekolah bisa di klasifikasikan menjadi dua macam prasarana pendidikan. Pertama, prasarana pendidikan yang scara langsung digunakan untuk proses belajar mengajar, seperti ruang teori, ruang perpustakaan, ruang praktik keterampilan, ruang laboratorium, kedua, prasarana pendidikan yang keberadaannya tidak digunakan untuk proses belajar mengajar, tetapi sangat menunjang pelaksanaan proses belajar mengajar, seperti ruang kantor sekolah dan lain-lain. Secara umum tujuan manajemen sarana dan prasarana pendidikan di sekolah adalah untuk memberikan layanan secara professional dibidang sarana dan prasarana pendidikan dalam rangka terselenggaranya proses pendidikan secara efektif dan efisien. Agar tujuan dapat tercapai ada beberapa prinsip yang perlu di perhatikan, yaitu pertama, prinsip pencapaian tujuan, yaitu bahwa sarana dan prasarana pendidikan di sekolah harus selalu dalam kondisi siap pakai oleh personel sekolah dalam rangka pencapaian tujuan proses belajar mengajar. Kedua, prinsip efisiensi, yaitu bahwa pengadaan sarana dan prasarana pendidikan disekolah harus di lakukan melalui perencanaan yang seksama, sehingga dapat diadakan sarana dan prasarana pendidikan yang baik dengan harga yang murah. Ketiga, prinsip adminisratif, yaitu bahwa manajemen sarana dan prasarana pendidikan di sekolah harus selalu memperhatikan undang-undang peraturan, instruksi, dan petunjuk teknis yang diberlakukan oleh yang berwenang. Keempat, prinsip kejelasan tanggung jawab, bahwa manajemen sarana dan prasarana pendidikan di sekolah harus diselenggarakan oleh personel sekolah yang mampu bertanggun jawab. Kelima, prinsip kekohesifan, bahwa manajemen sarana dan prasarana pendidikan di sekolah harus direalisasikan dalam bentuk proses kerja sekolah yang sangat kompak. Jadi manajemen sarana dan prasarana yang baik diharapkan dapat mencipatkan sekolah yang bersih, rapi, indah sehingga menciptakan kondisi yang menyenangkan baik bagi guru maupun bagi murid untuk berada di sekolah. Di samping itu juga diharapkan tersedianya alat-alat atau fasilitas belajar yang memadai secara kuantitatif, kualitatif dan relefan dengan kebutuhan serta dapat dimanfaatkan secara optimal untuk kepentingan proses pendidikan dan pengajaran, baik oleh guru sebagai pengajar maupun murid-murid sebagai pelajar.

Minggu, 30 Oktober 2016

Konsep Otonomi Pendidikan

Pengertian otonomi dalam konteks desentralisasi pendidikan, menurut Tilaar mencakup enam aspek, yakni :
 
(1) Pengaturan perimbangan kewenangan pusat dan daerah, 
(2) Manajemen partisipasi masyarakat dalam pendidikan, 
(3) Penguatan kapasitas manajemen pemerintah daerah, 
(4) pemberdayaan bersama sumber daya pendidikan, 
(5) hubungan kemitraan “stakeholders” pendidikan 
(6) pengembangan infrastruktur sosial.

Otonomi pendidikan menurut Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003 adalah terungkap pada Bak Hak dan Kewajiban Warga Negara, Orang tua, Masyarakat dan Pemerintah.


Pada bagian ketiga Hak dan Kewajiban Masyarakat Pasal 8 disebutkan bahwa “Masyarakat berhak berperan serta dalam perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, dan evaluasi program pendidikan ; pasal 9 Masyarakat berkewajiban memberikan dukungan sumber daya dalam penyelenggaraan pendidikan”.

Begitu juga pada bagian keempat Hak dan Kewajiban Pemerintah dan Pemerintah Daerah, pasal 11 ayat (2) “Pemerintah dan Pemerintah Daerah wajib menjamin tersedianya dana guna terselenggaranya pendidikan bagi setiap warga negara yang berusia tujuh sampai lima belas tahun”. Khusus ketentuan bagi Perguruan  Tinggi, pasal 24 ayat (2) “Perguruan Tinggi memiliki otonomi untuk mengelola sendiri lembaganya sebagai pusat penyelenggaraan pendidikan tinggi, penelitian ilmiah, dan pengabdian kepada masyarakat”.

Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa konsep otonomi pendidikan mengandung pengertian yang luas, mencakup filosofi, tujuan, format dan isi pendidikan serta manajemen pendidikan itu sendiri. Implikasinya adalah setiap daerah otonomi harus memiliki visi dan misi pendidikan yang jelas dan jauh ke depan dengan melakukan pengkajian yang mendalam dan meluas tentang trend perkembangan penduduk dan masyarakat untuk memperoleh konstruk masyarakat di masa depan dan tindak lanjutnya, merancang sistem pendidikan yang sesuai dengan karakteristik budaya bangsa Indonesia yang Bhineka Tunggal Ika dalam perspektif tahun 2020. Kemandirian daerah itu harus diawali dengan evaluasi diri, melakukan analisis faktor internal dan eksternal daerah guna mendapat suatu gambaran nyata tentang kondisi daerah sehingga dapat disusun suatu strategi yang matang dan mantap dalam upaya mengangkat  harkat dan martabat masyarakat daerah yang berbudaya dan berdaya saing tinggi melalui otonomi pendidikan yang bermutu dan produktif.

Rabu, 17 Agustus 2016

Mencermati Sistem Pendidikan Barat Melalui Film Dawson's Creek


Mencermati Sistem Pendidikan Barat
Melalui Film Dawson’s Creek


Oleh: Yudi Purbowinanto*

Pada mulanya, kehadiran film Dawson’s Creek tampak seperti kehidupan para remaja Barat dengan pergaulan yang bebas dan penuh keglamoran serta kehura-huraan. Suatu penilaian negatif yang sepintas diberikan jika melihat penampilan luarnya saja, mengingat film seri remaja sebelumnya  dengan judul  berbeda yang menceritakan kehidupan pelajar di suatu kota dengan kehidupan yang glamor dan mewah. Belakangan muncul kritikan-kritikan tentang film ini.  Berbagai alasan dikemukakan, seperti pergaulannya yang terlalu bebas, dll.
Lalu, dengan kritikan-kritikan tersebut apakah kita akan selamanya menutup diri dari film-film yang nota bene berasal dari Barat? Kemudian, dapatkah kita berkembang dengan menutup diri itu?. Hal ini karena ada kemungkinan semua film-film Barat, selalu menyuguhkan cerita sesuai dengan budaya mereka.
Tentunya, jika hal ini terus berlanjut  yang terjegal pastilah film-film remaja. Mengapa begitu? Karena ya memang selalu begitu. Itulah kehidupan remaja di sana yang kita bilang kurang bagus untuk perkembangan anak-anak di Indonesia.  Lalu, bagaimana dengan film-film dewasa?
Ternyata, setelah menyaksikan dan mengapresiasi film Dawson’s Creek tersebut dari seri ke seri, ada pengalaman baru yang membuka mata penulis. Melalui tulisan ini, penulis hendak mengajak kepada pembaca untuk membagi pengalaman yang  telah diperoleh dengan menonton/mengapresiasi film ini.
Pada kesempatan ini, penulis hanya akan membangi pengalaman dari film tsb dari sistem pendidikan. Film ini menceritakan mengenai persahabatan empat orang remaja yang tinggal di kota kecil. Mereka bernama Dawson (diperankan oleh.J.Van Der Beek), Pacey (diperankan oleh Joshua Jacson), Joey (Katie Holmes), dan Katherine (Michele Williams). Mereka berempat sekolah di tempat yang sama  setingkat SMU. Di sekolah itu, para siswa telah mendapatkan pendidikan khusus dengan jurusan masing-masing. Ada yang mendalami seni lukis, film, ekonomi, dan lain-lain.
Pemeran utama dari film itu adalah Dawson. Di  sekolah, ia lebih suka mendalami bidang film. Bahkan, dalam sebuah lomba, ia sempat meraih juara.
Pada kesempatan lain, Dawson hendak memproduksi film keduanya. Film kedua ini mengundang pertentangan antara ia dan mantan pacarnya (Joey). Pasalnya, film ini mengisahkan tentang kisah cintanya yang telah lalu dengan Joey mantan pacarnya yang kini kembali berstatus sebagai sahabat. Di satu pihak Dawson mengangkat kisah cintanya karena ia belum dapat melupakan Joey. Di pihak lain, Joey  merasa cemburu  dan terganggu karena ia diperankan oleh seorang artis yang masih sebaya mereka. Kecemburuan itu terjadi karena artis tersebut sangat dekat dengan Dawson. Padahal, Dawson dekat dengan artis tersebut sebatas dalam pekerjaan saja. Dawson puas dengan hasil kerja artis itu. Ketergangguan Joey di sisi lain karena artis tersebut selalu memperhatikan gerak-gerik dan tingkah lakunya. Bahkan, berkali-kali artis tersebut menanyakan bagaimana Joey jika sedang marah. Joey sangat terganggu dengan pertanyaan-pertanyaan itu. Namun, artis itu tidak putus asa. Suatu saat ia menyebarkan isu yang memancing kemarahaan Joey. Dari situlah, artis itu mendapatkan karakter Joey yang sedang marah. Ia lalu berterima kasih dan pergi. Joey yang sedang marah jadi bingung dibuatnya. Ternyata, isu itu adalah cara untuk memancing kemarahannya saja.
Betapa mengesankan orang Barat dalam menekuni bidang yang disukainya dalam hal ini tokoh Dawson. Bahkan, dengan profesional, ia mengerjakan pekerjaan itu.  Padahal, jika dilihat dari usia dan pendidikan ia baru setingkat dengan SMU di negara kita. Dawson sangat bersungguh-sungguh dalam menciptakan suatu karya. Contoh lain diperlihatkan oleh tokoh sang artis. Segala cara ia lakukan agar pekerjaannya sempurna.  Dengan usianya yang sedemikian muda, mereka sangat bertanggung jawab dengan pekerjaannya dan mencurahkan semua tenaga dan pikiran untuk pekerjaannya.
Sementara itu, di negara kita, belum banyak yang dapat dilakukan oleh anak setingkat SMU. Hal ini mungkin karena berbagai kendala, seperti fasilitas, tenaga pengajar, dan lain-lain. Jika saja sekolah- sekolah menengah telah difasilitasi  seperti dalam film itu, tentunya  siswa-siswa di Indonesia pun akan memiliki kemampuan yang sama dengan siswa di negara-negara  Barat. Tentunya, hal ini akan berdampak kepada lapangan pekerjaan dan kesejahteraan. Para lulusan sekolah menengah  tidak akan lagi kebingungan dengan apa yang harus dilakukannya jika mereka tidak melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi.
Usaha untuk mengarah ke sana telah ada sejak dulu dengan adanya sekolah kejuruan. Tinggal saja kualitasnya lebih ditingkatkan. Selain itu, alangkah baiknya jika ada jurusan-jurusan lainnya seperti teater, seni, dll.  Atau, hal-hal di atas dapat dilakukan seperti kegiatan ekstra kurikuler yang benar-benar mendapatkan dukungan dari sekolah dan pemerintah. Mengapa demikian? Tentunya hal ini berkaitan dengan dana. Selama ini, kegiatan ekstra kurikuler di  sekolah menengah  masih lemah, kurang perhatian, dan kurang beragam.
Dalam film itu sekolah memiliki fasilitas yang lengkap, sehingga siswa dapat mengembangkan bakatnya. Sebaliknya di negara kita, sekolah-sekolah banyak sekali yang tidak memiliki fasilitas, bahkan fasilitas dasar pun seperti perangkat untuk menunjang kegiatan belajar masih ada yang belum punya.
Pada episode lain, diceritakan bahwa hasil karya para siswa dipamerkan dalam sebuah acara pasar seni. Dawson sangat bangga dengan film hasil karyanya. Kemudian, di sana hadir seorang guru baru di bidang perfilman. Dawson ingin memperlihatkan hasil karyanya. Lalu, ia dan guru barunya itu menonton filmnya. Ketika film itu sedang berlangsung, terlihat bahwa Dawson bangga dengan hasil karyanya. Ia merasa yakin bahwa karyanya itu bagus karena telah ia garap dengan sungguh-sungguh. Dalam benaknya terlintas bahwa guru itu akan mengaguminya dan akan membawanya ke Hollywood yang memang merupakan barometer perfilman dunia.
Ketika film usai, Dawson menanyakan komentar sang pengamat. Dengan singkat sang pengamat mengatakan “lumayan”. Dawson menjadi semakin penasaran. Ia tidak puas hanya dengan jawaban “lumayan.” Sebenarnya, harapannya lebih dari itu. Ia pun memaksa untuk mengatakan yang sejujur-jujurnya tentang film itu. Dengan berat, sang guru mengungkapkan dengan sebenarnya bahwa film yang dibuat oleh Dawson tidak bermutu, tidak ada misi, klimaksnya tidak menarik, dan lain sebagainya. Dawson berusaha membela dan menghibur diri bahwa ia memang masih belajar dan tentunya film itu masih berlanjut. Namun, komentar sang pengamat akan percuma kalau Dawson melanjutkan film itu.Kemudian, Dawson pun akan sulit untuk menembus Hollywood.
Dari hasil pengamatan film di atas menggambarkan bahwa hidup ini memang keras. Kehidupan seseorang tidak akan lurus-lurus saja sesuai dengan keinginannya. Bahkan, kita harus lebih berusaha lagi walaupun sudah berusaha. Komentar-komentar pedas yang diberikan oleh sang pengamat adalah semata-mata cambuk agar Dawson berusaha lebih keras lagi. Dalam kehidupan, kegagalan adalah hal yang biasa. Pepatah mengatakan bahwa kegagalan adalah pangkal dari keberhasilan.
Peristiwa lain di bidang pendidikan yang muncul dalam episode lain adalah saat berlangsungnya pelajaran sastra. Seluruh siswa ditugaskan untuk membuat puisi. Guru sastra itu adalah seorang laki-laki tua yang dikenal cukup galak.
Ketika memeriksa hasil kerja siswanya, guru tersebut membaca sebuah karya yang cukup aneh. Pasalnya, seorang siswa laki-lakinya membuat sebuah puisi yang mendambakan seorang laki-laki. Kecurigaan bahwa siswa itu adalah seorang gay pun muncul. Lalu, sang guru menugaskan kepadanya untuk membacakan puisinya. Tentulah hal itu membuat bahan tertawaan teman-temannya.
Sebenarnya, apakah yang menyebabkan guru itu menugaskan kepada murid itu untuk membacakan puisinya. Ada beberapa kemungkinan yang menyebabkan  guru itu menugaskan kepada murid itu untuk membacakan puisinya. Pertama, guru itu segaja mengolok-olok murid itu karena ia menduga bahwa murid itu adalah seorang gay. Kedua, guru itu hendak menyadarkan bahwa murid itu adalah seorang laki-laki, tidak sepatutnya membuat puisi seperti itu.Ketiga, guru itu hendak menguji keberanian murid untuk mengungkapkan jati dirinya.
Namun, tidak halnya dengan Pacey yang teman sebangku dan kekasih kakaknya. Pacey merasa kasihan. Ia mencoba membelanya. Pertengkaran pun terjadi antara Pacey dan guru sastra itu. Bahkan, Pacey sempat  (maaf...red) meludahi guru itu.  Akhirnya, kasus itu disidangkan di ruang kepala sekolah. Pacey pun mendapat hukuman  berupa skorsing.
Pacey sangat menyesalkan kejadian itu. Begitu pula halnya dengan teman-temannya. Harapan Pacey, setelah menjalani hukuman skorsing, semua akan kembali dengan normal. Namun, kenyataannya lain. Kini, guru itu terus menerus menyudutkan Pacey. Sepertinya, ia tidak memaafkan perbuatan Pacey. Bahkan, Pacey terancam tidak lulus mata pelajaran Sastra.
Pacey pun memberontak. Ia melaporkan kejadian itu pada kepala sekolah. Bahkan, argumennya diperkuat dengan menyodorkan peraturan pendidikan yang menjerat guru itu. Pacey menjelaskan bahwa guru itu masih menaruh rasa dendam, sehingga guru itu telah bersikap subjektif.  Mendengar penjelasan Pacey, kepala sekolah pun tidak dapat mempertahankan guru itu. Akhirnya, guru tersebut diberhentikan dari sekolah.
Ketika guru itu sedang mengemas barang-barangnya, Pacey datang menghampirinya. Dengan wajah yang memperlihatkan kebingungan dan penyesalan ia mencoba meminta maaf dan berkata bahwa pengaduannya kepada sekolah bukan bermaksud agar gurunya itu diberhentikan dari sekolah. Harapannya hanyalah guru itu akan menyadari tindakannya.
Namun, apa yang dikatakan oleh gurunya? Ia hanya bilang sudah terlambat.  Kariernya yang  telah dijalani selama bertahun-tahun di sekolah itu  kini telah hancur. Lalu, guru itu berkata bahwa seburuk-buruknya cara mengajar dia,  dengan peristiwa ini, Pacey dan teman-temannya telah mendapatkan pelajaran yang berharga darinya. Lalu, ia pun pergi meninggalkan sekolah itu.
Bagi Pacey dan teman-temannya menganggap bahwa gurunya salah. Padahal, ada hikmah yang dapat diambil dari peristiwa ini. Guru sastra itu tidak semata-mata hanya mengajar pelajaran sastra. Bahkan, ia pun secara tidak disadari oleh muridnya telah mendidik siswa belajar berdemokrasi, berani mengungkapkan pendapat, dan belajar mengungkapkan jati dirinya.
Bagaimana halnya jika peristiwa ini terjadi di masyarakat kita? Sesuai dengan adat ketimuran, guru adalah sosok orang yang dihormati, menjadi panutan, selalu digugu dan ditiru oleh muridnya. Ia dan posisinya selalu menempatkan diri di atas murid. Murid menerima pendidikan dari gurunya seolah-olah yang diucapkannya selalu benar. Ada kecenderungan, guru merasa gengsi untuk menerima masukan dari muridnya. Padahal, sukses pendidikan salah satunya adalah dengan terjadinya komunikasi dua arah dengan baik. Guru menjelaskan dengan baik dan murid dengan berani dan lantang bertanya jika ada yang kurang jelas atau ada komentar.
Ada dua kemungkinan yang dapat terjadi. Pertama, peristiwa itu tidak akan  terjadi di masyarakat kita mengingat budaya demokrasi di masyarakat kita masih kurang. Yang terjadi mungkin akan sebaliknya. Kemungkinan kedua, jika peristiwa itu terjadi, murid akan dikeluarkan dari sekolah.Hal ini terlepas dari guru itu benar atau salah, tindakan yang dilakukan oleh murid sangat menjatuhkan wibawa pendidikan. Padahal, jika kita renungkan, sekolah itu adalah tempat mendidik orang yang tidak tahu menjadi tahu. Sekolah tempat memperbaiki orang yang salah menjadi benar. Orang salah itu ibarat cucian kotor. Cucian yang kotor tidak akan dibuang oleh pemiliknya, tetapi dimasukkan ke dalam mesin cuci. Sekolah itu adalah mesin cucinya. Manakah yang akan terjadi, kemungkinan pertama, kemungkinan kedua, atau peristiwa yang terjadi dalam film itu dapat pula terjadi di masyarakat kita? Marilah kita renungkan bersama.
Peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam film itu hanyalah sebuah wacana. Penulis hanyalah mencermati film itu dan melihat kenyataan di masyarakat kita. Tak salah bila film ini disajikan oleh sebuah stasiun televisi pendidikan dan disponsori oleh beberapa lembaga pendidikan. Semoga, para pembaca dapat mengambil manfaat dari menonton dan mencermati film ini.


  *(Penulis adalah seorang editor dan penulis buku di Bandung)


Memilih Buku Bacaan yang Tepat untuk Anak


Memilih Buku Bacaan yang Tepat untuk Anak

 Oleh: Yudi Purbowinanto, S.S.


“Buku adalah gudang Ilmu.” Secara tersurat, kata pepatah itu masih sering kita dengar. Namun, secara tersirat, makna dari pepatah itu sering terlupakan.

Buku masih dianggap sesuatu benda yang  “asing” untuk diperkenalkan kepada anak-anak. Begitu pula dengan membaca, masih ada orangtua yang beranggapan bahwa membaca adalah pekerjaan yang sia-sia.
Sebagai contoh dalam suatu keluarga. Seorang ibu mempunyai dua orang anak. Anak yang satu sedang menyiram bunga, anak lainnya membaca. Ibu dari kedua anak tersebut lebih memandang si anak  yang  menyiram bunga, yakni anak yang melakukan pekerjaan daripada anak yang sedang membaca.
Dari contoh di atas, terlihat bahwa membaca tidaklah  dianggap sebagai suatu pekerjaan penting. Membaca masih dianggap  pekerjaan iseng yang dilakukan hanya sekadar mengisi waktu luang.
Padahal, jika kita memandang secara luas pepatah di atas,  dengan membaca, ilmu dan wawasan kita akan bertambah. Apapun yang kita baca pasti bermanfaat. Apakah itu buku, majalah, surat kabar, dan lain-lain.
Seharusnya, kita pun sependapat bahwa membaca adalah modal  berharga untuk bisa hidup dalam masyarakat.Di sekolah dasar, anak-anak dididik belajar membaca. Membaca menjadi sarat mutlak berhasilnya proses belajar mengajar. Setelah dewasa kita bekerja. Dalam bekerja, kita pun perlu membaca untuk keperluan pekerjaan dan menambah wawasan.
Bila kita mendapat kepuasan yang mendalam dari membaca buku, kita ingin mewariskan  pengalaman itu kepada anak kita. Sebaliknya, bila  sangat sedikit kita  mendapatkan kepuasan dari bacaan itu, kita hanya berharap agar anak kita mendapatkan kepuasan yang lebih besar dari yang kita peroleh.
Tidak hanya itu, buku juga menawarkan sesuatu bentuk dari sekadar pelajaran atau hiburan. Di tengah dunia mereka yang serbasibuk, buku menjadikan kebutuhan khusus anak, yaitu pintu menuju dunia pikiran dan emosi yang tidak dapat dicapai dengan cara lain. Dengan demikian, membaca akan menjadi suatu komunikasi yang akrab dan intim.
Dari semua alasan itu, munculah keinginan agar anak kita mau dan terbiasa dengan membaca. Akan tetapi, alasan kita untuk memaksa si anak untuk membaca tidaklah cukup berdasarkan manfaatnya saja. Kegiatan membaca harus disepakati atas dasar bagian dari kesenangan hidup. Kita ingatkan kepada si anak agar tidak kehilangan bagian dari kesenangan itu.
Saat yang paling mendebarkan adalah menanti kapan peran orang tua membimbing anak untuk diperkenalkan dengan buku. Kita tidak sabar menanti saat membacakan buku cerita anak bukan lagi sekadar memberi tahu nama dan gambar-gambar. Kemudian, dia mulai belajar membaca dan kita memperhatikannya dengan berbagai harapan. Lalu untuk pertama kalinya, dengan bangga, kita membawa si anak ke toko buku untuk memilih buku yang dia inginkan. Bagi orang tua yang mengantar si anak  menuju dunia perbukuan merupakan sukacita yang tiada taranya.
Namun perlu kita sadari, pembaca yang baik bukanlah dibentuk oleh keinginan orang tua. Mereka harus dibentuk atas dasar keinginan pribadi, dan tersedianya buku-buku yang mereka inginkan, serta  kemampuan daya tangkap membaca mereka.
Lalu, apakah buku yang anak-anak baca itu benar-benar disukai? Atau hanya karena tidak ada buku lainnya?
Jika ditinjau dari segi psikologi, psikologi pembaca berhubungan dengan masalah perkembangan literer. Analog dengan ajaran fase dalam psikologi perkembangan, dianjurkan sederetan model dengan titik-tolak bahwa perkembangan literer dalam urutannya terikat pada tingkat usia. Ch. Buhler menunjukkan adanya lima fase dalam proses:
1. Usia fantasi anak, usia  2-4 tahun;
2. Usia dongeng usia 4-8 tahun;
3. Usia petualangan, usia 8-11/12 tahun
4. Usia kepahlawanan, usia 12-15 tahun
5. Usia liris dan romantis, usia 15-20 tahun.
Dari aspek psikologi pembaca tersebut, kita dapat memperkirakan buku apakah kira-kira yang disukai untuk anak-anak kita.
Bahan bacaan yang tersedia bagi anak-anak dewasa ini sangat berlimpah dan beragam. Para penerbit buku berusaha memenuhi keinginan pembacanya dari berbagai tingkat usia. Akan tetapi, semua itu belum berarti apa-apa. Buku-buku yang tersedia masih belum mampu “Berbicara” terhadap mereka.
Akan tetapi, sebagian tentu ada yang demikian. Cukup banyak dari buku-buku itu yang mengenai sasarannya, yaitu minat baca anak-anak dewasa ini, tanpa melepaskan bimbingan kita terhadap mereka.
Untuk memberikan bimbingan yang bermanfaat kepada anak-anak, kita perlu mengetahui buku-buku  yang tersedia bagi anak-anak dewasa ini.
Dalam beberapa hal, kita mungkin masih memiliki  berbagai pilihan. Misalnya, kita masih memasak dengan kompor minyak, seraya mencemoohkan kompor gas. Adapula orang yang lebih senang bepergian dengan motor daripada mobil. Naik motor dapat menghindari macet. Sementara itu, pengendara mobil berpendapat bahwa dengan mengendarai mobil tidak akan kehujanan dan masuk angin.
Dalam hal ini, kita tidak dapat   memutuskan untuk mengenyampingkan berbagai bentuk komunikasi. Terutama, bentuk-bentuk komunikasi yang diminati oleh anak-anak. Kita dapat menolak kehadiran pesawat televisi di rumah, tetapi kita tidak dapat menghalangi anak dari siaran TV. Bisa saja si anak, menonton siaran TV di rumah temannya.
Banyak orang tua yang merasa cemas terhadap buku-buku yang tidak seharusnya dibaca oleh anak-anak. Mengingat banyaknya buku yang tersedia di pasar, mulai buku terbaik sampai terburuk dengan mudah  dapat dimiliki dengan harga murah. Hal itu bukan persoalan gampang untuk diberantas.
Kita melarang anak kita membaca komik yang berkualitas rendah, tetapi anak itu dapat saja membaca komik di rumah temannya.
Dalam hal ini, seperti dalam segi kehidupan lainnya, para orang tua dianjurkan memberikan bimbingan yaitu melalui sikap dan prasangka kita.
Beberapa kekhawatiran kita terhadap media memang dapat dibenarkan. Kita mempunyai alasan untuk mempertimbangkan apakah suatu acara atau cerita komik  cocok  atau tidak bagi seorang anak. Kita tidaklah salah bila mempertimbangkan bahayanya penyajian pengalaman-pengalaman yang belum siap untuk dihadapi oleh seorang anak.
Sebagai contoh: Beberapa penulis mengatakan bahwa film dan komik Crayon Sinchan sangat baik dan sukses dalam meningkatkan minat baca anak. Namun, menurut beberapa ahli psikologi cerita tersebut kurang baik bagi perkembangan anak. Sinchan sebagai tokoh utama dalam cerita itu terlalu berlebihan. Anak itu terlalu nakal, tidak layak seperti kenakalan seorang anak pada umumnya. Hal ini dikhawatirkan bahwa tindakan dalam cerita itu akan ditiru oleh anak-anak. Lebih celaka lagi jika anak-anak menganggap lazim tindakan tersebut.
Contoh lain,  sebuah acara tayangan di televisi yang berjudul Smack Down telah digandrungi oleh anak-anak. Dalam berita di surat kabar beberapa waktu yang lalu menceritakan seorang anak mengikuti perilaku orang-orang dalam acara Smack Down, sehingga mencederai temannya.
Contoh tersebut memperlihatkan betapa kuatnya pengaruh luar terhadap perkembangan jiwa anak. Anak-anak di masa usianya masih sangat kuat untuk meniru segala sesuatu hal. Terkadang mereka tidak tahu apakah hal itu baik ataupun tidak.
Oleh karena itu, bimbinglah mereka dalam menyikapi isi bacaan dan tontonan. Jangan melarang mereka untuk melakukan hal tersebut. Walaupun dalam pelaksanaannya, hal ini memanglah tidak semudah membalikkan telapak tangan. Kadang-kadang, kita menginginkan adanya sensor. Lepas dari kenyataan bahwa sensor jarang memberikan  hasil yang memuaskan.
Lantas, bagaimana kita dapat mendorong setiap anak -- apapun selera, minat dan motivasinya -- menentukan bacaan yang bermanfaat untuknya?
Sebagai orang tua, seyogianya kita mempertemukan anak-anak terhadap buku yang baik. Besar kemungkinan, anak-anak tidak dapat menerima hal-hal yang kita katakan “baik”. Kita harus siap menafsirkan konsep “baik” itu dengan lebih luwes dan bijaksana.
Namun, biarlah mereka sendiri yang menentukan apa yang akan mereka ambil untuk kehidupannya. Walaupun mereka mungkin tidak mengambil apapun dari yang kita rasa baik, sedikitnya mereka telah mempelajari  kriteria kita. Kriteria inilah yang akan mereka terapkan dalam mencari norma ataupun nilai-nilai yang memberi arti bagi mereka.
Dengan demikian, apapun perkembangan yang terjadi, anak-anak kita memperoleh pelajaran, norma kehidupan, dan hiburan dari banyak sektor. Semua sumber itu mengacu kepada buku. Mereka akan membaca buku, di samping melihat dan mendengar berbagai hal lain. Harapan kita adalah agar buku-buku yang mereka baca memperkaya pengalaman dan pengetahuan mereka.